Perempuan

 Perempuan

Halo selamat datang di #OcehEla yang cuma muncul tiap kali ada keganjalan, kali ini mau bahas sedikit tentang perempuan, selamat membaca.


Gak akan pernah habis rasanya kalau membahas tentang perempuan. Terlalu banyak stereotip dan stigma yang diberikan oleh lingkungan untuk perempuan, di manapun tempatnya selama patriarki berdiri di sanalah perempuan terhakimi. Sebab cukup banyak kasus yang disuguhkan oleh lingkungan mengenai perempuan. Seperti dalam berpakaian, berperilaku, hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak harus dilakukan, gak boleh begini, gak boleh begitu, harus ini, harus itu. Cukup banyak rasanya tuntutan yang menjadi tanggung jawab perempuan, mengemban stereotip untuk tampilan publik yang lebih baik.

Benar jika hal-hal dasar itu berlaku juga untuk laki-laki, tapi tetap saja selalu ada perspektif yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dari banyaknya contoh kasus yang disuguhkan lingkungan, sebagian besar laki-laki berperan sebagai pelaku kekerasan untuk perempuan mulai dari kekerasan secara fisik, pemerkosaan dan tindak kejahatan lainnya. Bahkan kerap kali menganggap perempuan sebagai penanggung jawab domestik dalam hal rumah tangga. Memposisikan perempuan distrata bawah dan menganggapnya hal biasa.

Mempersoalkan perempuan yang berpendidikan tinggi dalam hal domestik. Dalam hal ini, mengapa perempuan yang harus menanggung tanggung jawab itu? Padahal seharusnya, dalam hal rumah tangga harus ada kesinambungan, kerja sama antara laki-laki dan perempuan, juga komitmen antara dua pihak, bukan suatu kesalahan rasanya jika laki-laki ikut berperan dalam rumah tangga. Dan permasalahan lain, ketika terjadi pelecehan atau kekerasan seksual, mengapa kerap kali pihak perempuanlah yang harus menanggungnya? Sudah menjadi korban, disalahkan pula dengan alasan berpakaian. Dalam hal ini, kenapa tidak laki-laki yang harus menahan nafsu dan menjaga birahinya? 

Cukup banyak stereotip yang harus ditanggung perempuan. Ketika nada suara menjadi tinggi perempuan dinilai mendominasi, ketika nada suara melembut perempuan dinilai menggoda, ketika langkah kaki menjadi tegap perempuan dinilai angkuh, ketika bersikap tegas perempuan dianggap bossy. Berbeda jika posisi ini terjadi pada laki-laki. Akan banyak pemikiran yang mengatakan “laki-laki memang harus bersuara lantang” Itu menunjukkan ketegasan, ketika nada suara melembut laki-laki dianggap tipe penyayang, ketika bersikap tegas dan langkah kaki yang tegap laki-laki dianggap berwibawa. Lekatnya patriarki membuat perempuan terkungkung, hanya bernapas pada lingkup yang sudah dibatasi

Bahkan bisa saja stigma datang lewat narasi ini, menganggap perempuan ingin lebih tinggi dan melampaui batas laki-laki. Padahal, hanya ingin membuka perspektif lain mengenai perempuan. Perempuan bisa tangguh tanpa kehilangan feminismenya, perempuan bisa kuat tanpa kehilangan keindahannya, perempuan bisa melakukan banyak aktivitas tanpa kehilangan kodratnya.


Komentar

Postingan Populer