YANG UTAMA & PENDUKUNG

Katanya “Selamat HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional)” tapi apa masih perlu setiap tahunnya diperingati? Sedangkan pendidikan kita dilemahkan oleh sistem itu sendiri.

Halo selamat pagi, siang, sore, malem. Balik lagi di #ocehela. Semua tulisan ini pure menurut keyakinan gue. Lo boleh setuju, boleh juga nolak!

Gue mulai dari MBG. Menurut lo, seberapa perlu kita sama MBG?

Menurut keyakinan gue.

Program ini motong anggaran pendidikan cukup banyak, kita gak bisa tutup mata kalo pendidikan sangat penting dan harus jadi prioritas utama bukan pendukung. Dari anggaran pendidikan yang digunakan untuk program MBG seharusnya bisa dipakai untuk tenaga pendidik, infrastruktur pendidikan, juga akses pendidikan.

Untuk menuju Indonesia emas butuh SDM yang berkualitas, salah satunya dengan pendidikan. SDM yang berkualitas akan mengonsumsi hal yang berkualitas juga, termasuk asupan gizi. Jadi, “makanan bergizi” bisa ditaruh diprioritas pendukung bukan utama.

Padahal, untuk saat ini MBG bukan kebutuhan yang mendesak tapi pengurus negara sat-set banget bahkan lebih cepet dari penanganan bencana. Menurut keyakinan gue! Kalo pendidikan jadi prioritas utama pasti sektor pendidikan akan dapet impact dari bentuk prioritas itu. Butuh bukti? MBG jadi prioritas utama dan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dapet impact-nya. Kemudian, pengurus negara mengoptimalkan semua hal untuk kepentingan MBG, bahkan kepada hal yang tidak ada kaitanya dengan gizi. BGN (Badan Gizi Nasional) Beli seragam, kaos kaki, semir sepatu, ikat pinggang dan hal lainnya.

Baik, katakanlah pendidikan juga prioritas utama. Terus apa yang didapat untuk pendidikan kita? Makanan Gratis? Tujuan utamanya untuk mencegah stunting bukan mencerdaskan. Bahkan tenaga pendidik diminta untuk mengurusi MBG, mengurusi jumlah ompreng misalnya. Tenaga pendidik ikut terlibat untuk hal yang seharusnya tidak dikerjakan. Apa yang didapat untuk pendidikan kita? Ketika pendidikan yang seharusnya menjadi hak untuk setiap anak tapi belum terpenuhi secara utuh. Tempo lalu, anak usia 10 tahun di NTT dikabarkan meninggal karena tidak mampu beli alat tulis. Dalam kejadian ini, tidak hanya dibebankan kepada individu-individu tertentu saja tapi negara juga perlu ikut peran, negara perlu mencegah bukan sekadar berduka.

Katanya “kami sudah menyediakan sekolah rakyat.”

Izin, kenapa gak perbaiki aja apa yang ada? Misal, penuhi kebutuhan sekolah negeri, dicek apakah fasilitasnya udah terpenuhi? Karena mau sebanyak apapun sekolah rakyat kalo fasilitasnya gak terpenuhi bisa aja jadi alasan terhambatnya pembelajaran. Selain itu, akses yang belum merata, infrastruktur pendidikan yang belum memadai. Padahal Indonesia gak cuma pulau jawa aja, tapi sejauh ini lebih banyak pulau Jawa yang tersorot.

Adanya MBG bikin gue makin melek dan sadar kalo negara kita punya banyak uang. Dan lagi, uang-uang itu dipakai untuk program “prioritas” bahkan secara terang-terangan ketua BGN kita berani ugal-ugalan belanja barang yang gak ada kaitannya dengan gizi.

Ditambah lagi rencana pengurus negara kita yang blunder. Badri Munir (Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek) katanya “prodi yang tidak relevan sama industri akan di tutup.”  Izin, kenapa gak industrinya aja yang disiapin untuk lulusan prodi tersebut supaya pendidikannya tetap relevan? Dengan begitu bisa menambah lapangan pekerjaan, sekaligus bisa menepati janji 19 juta lapangan pekerjaan. Sebanyak apapun prodinya gak akan relevan kalo industrinya gak ada kemajuan, jadi kenapa gak industrinya aja yang ditingkatin? Kenapa prodinya yang dihapus? Kenapa pendidikannya yang dihilangkan? Jadi, apa yang didapat untuk pendidikan kita?

Dan lagi, sempat dibahas untuk menutup prodi keguruan. Badri Munir menganggap prodi keguruan oversupply /kelebihan pasokan antara mahasiswa yang diluluskan dengan lowongan pekerjaannya. Ini menurut keyakinan gue, lo boleh setuju, boleh juga nolak! Supaya gak oversupply kenapa gak dipekerjakan ke tempat-tempat yang belum terjangkau pendidikan? Dengan begitu bisa menyebarkan pendidikan dan membentuk pemerataan.

Pengurus negara punya banyak wewenang untuk melakukan banyak hal, termasuk keputusannya mengenai pendidikan. Seharusnya, memaksimalkan dan melakukan berbagai cara untuk menunjang pendidikan adalah hal mudah. Padahal, dengan pendidikan kita tidak hanya meningkatkan literasi saja, tapi juga dapat membangun Sumber Daya Manusia yang lebih berkualitas. Dengan SDM yang berkualitas kita bisa meningkatkan ekonomi, dengan begitu kemiskinan dapat berkurang. Selain itu pendidikan juga dapat mendorong kita berpikir kritis, meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan inovasi. Dengan meningkatnya kesadaran akan terbentuk moral, dengan nilai moral kita dapat mengurangi tingkat kriminalitas dan konflik sosial.

Menurut keyakinan gue si gitu ya.

Semua yang dikerjakan dan semua yang diharapkan pengurus negara adalah hal baik, tapi tergantung, bagaimana pengimplementasiannya.

 

Sekian dari gue #ocehela.

Selamat Hari Pendidikan Nasional semoga kita tetap semangat belajar!

 

 

 

Komentar

Postingan Populer